Senin, 03 September 2012

"Seindah Pagi"


Senyumku di kala pagi menjelang
Di balik jendela ku bertanya-tanya
Adakah seindah yang lalu????

Terbuka mata yang telah terpejam
Menatap indah dunia bersama mentari
Tanpa sadar ku bahagia
Indahnya hari masih ku nikmati

Tuhan...
Tak henti aku bersyukur padamu
Engkau ciptakan pagi yang indah untukku
Kala nafas masih berhembus aku kan stia padamu
Membuka mata , melangkah kaki diujung mimpi

Bersamamu pagi...
Ku nikmati hariku dengan iringan doa
Ku sambut engkau dengan senyum terindahku
Hingga tetesan embun lenyap di telan bumi


Minggu, 02 September 2012

Bebaskan Aku...!!!


Bukan malah terpenjara
Dengan siapa aku harus bicara
Tak ada seorang pun mendengarkanku bercerita
Mungkin dengan ini dapat ku luapkan
Rasa yang terpendam...
Batin tersiksa, Aku menangis dalam hati
Ku pampang raut bahagia meski ku kecewa
Tegarkan aku...
Kuatkan hatiku...
Aku terlalu rapuh
Aku yakin aku bisa
Yakin ku sanggup bertahan disini
Dengan segala kerapuhan
Sakit ku rasakan, jiwaku tak mampu bertahan
Ku kan tetap tunjukkan pada dunia
Aku mampu berdiri tegak dan tegar
Mengalahkan segala keangkuhan terhadapku
Mengalahkan segala kerapuhan dihatiku

Potret Hitam Mahasiswa Masa Kini

Potret hitam mahasiswa
Seorang mahasiswa seharusnya mampu memikirkan apa yang  sudah sepantasnya ia lakukan layaknya mahasiswa. Mahasiswa yang menjadi panutan masyarakat nampaknya sudah tidak mampu mempertahankan identitasnya sebagai mahasiswa. Asumsi masyarakat yang menganggap mahasiswa adalah kaum intelektual sejati ternyata salah. Sebagian dari kalangan mereka tak lain adalah kaum muda yang tidak tahu apa-apa.

Sejak lahirnya masa orde baru hingga saat ini, banyak bermunculan opini – opini negatif masyarakat tentang keberadaan mahasiswa. Beranjak dari habitat mereka yang sebagian besar berasal dari pedesaan sampai mereka yang berada di kota - kota besar. Mereka sengaja bermigrasi dari desa kota untuk meraih gelar sarjana. Mereka tak peduli berapa banyak isi dompet yang harus terkuras demi sebuah pendidikan. Bagi masyarakat awam, hal ini merupakan suatu tindakan yang menambah berat beban keluarga.  Belum tentu mereka semua akan menjadi orang sukses, sehingga dapat mengganti jumlah biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya.

Berbagai opini negatif masyarakat muncul bukan tanpa alasan. Lihat saja fenomena – fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa saat ini. Tak jarang dari mereka melakukan penyimpangan – penyimpangan yang mereka anggap biasa. Dari mulai tindakan minus kecil hingga tindakan minus besar yang kesemuanya berakibat fatal bagi diri mahasiswa itu sendiri.
Mahasiswa yang kurang beruntung di ibu kota berpindah haluan dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah mahasiswa yang di Drop Out karena tidak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan. Mereka terpaksa beralih fungsi menjadi buruh atau pekerja keras untuk menghidupi dirinya di ibu kota tanpa memberi kabar kepada sanak –saudara mereka di desa. Terbayangkan oleh kita bahwa sanak saudara yang sudah lama menanti menganggap diri mereka telah sukses dan mendapat gelar sarjana di sana. Padahal, kenyataannya sangat berbeda.


Lain lagi bagi mahasiswa  yang tergolong mampu. Mereka terlihat santai tanpa memikirkan beban biaya yang ada. Mereka datang dan pergi ke kampus sesuka hati. Di saat menjelang ujian, dengan santainya mereka keluarkan isi dompet untuk menyuap sang dosen demi meraih sebuah nilai tanpa belajar.

Potret mahasiswa yang salah menggunakan biaya semester dari orang tua juga tak kalah hebatnya. Uang yang seharusnya mereka bayar untuk memenuhi biaya semester ataupun biaya lainnya sengaja mereka gunakan untuk kepentingan-kepentingan lain yang tidak berarti. Mereka menggunakan biaya semester hanya untuk berfoya – foya tanpa mereka sadar dampak yang akan di timbulkan dari perbuatan mereka itu. Setiba masa penagihan biaya, mereka bingung untuk mencari uang pinjaman. Nampaknya, meminta uang kepada orang tua sudah tak mungkin lagi, ingin kerja belum punya potensi.  Akhirnya mereka terpaksa menggadaikan barang – barang yang mereka punya demi melunasi biaya kampus yang harus mereka bayar tiap tahunnya.

Mahasiswa  yang seharusnya datang kekampus menimba ilmu, malah lebih senang duduk-duduk di kantin bersama teman-teman se-ganknya. Entah apa yang sedangmereka bahas hingga betah berjam-jam duduk diam di kantin tanpa memperdulikan mata kuliah yang seharusnya mereka dapatkan didalam lokal.

Banyaknya mahasiswa yang benci terhadap buku-buku pelajaran membuat prioritas mutu mahasiswa kini semakin rendah. Mereka lebih senang mengcopy paste dari situs-situs internet daripada mencari sumber dari buku-buku perpustakaan. Bagi mereka, berlama – lama membaca buku hanya membuang-buang waktu saja. Tidak seperti dari akses internet yang super cepat, praktis dan murah.


Di sisi lain, mereka yang dipercayakan sebagai anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) banyak yang menyalah gunakan jabatan mereka sebagai raja kampus.Merekasebagai kaum intelektual yang mempunyai jiwa kritisme tinggi memanfaatkan posisi mereka untuk mengelabuhi para dosen. Hingga dosen tak sungkan-sungkan mengeluarkan alokasi dana untuk mereka tanpa tahu kemana alokasi dana itu dipergunakan.
Mahasiswa vs Polisi
Para aktivis mahasiswa yang menjadi contoh teladan bagi orang–orang sekitarnya malah menjadi sosok sadis yang di takuti para dosen dan mahasiswa lainnya. Mereka tidak peduli kegiatan belajar yang sedang berlangsung di kampus. Yang ada di pikiran mereka hanyalah bagaimana caranya agar tetap axis dalam dunia organisasi dengan mengadakan gebrakan – gebrakan di setiap permasalahan yang muncul baik dalam kalangan kampus, sosial maupun di instansi pemerintahan.

Lebih parahnya lagi adalah mahasiswa yang sering kedapatan melakukan tindakan kriminal. Mereka tak sadar hal demikian dapat merusak image personality diri mereka sebagai mahasiswa. Mereka lupa akan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa yang menjadi panutan bagi masyarakat sekitar.

Sudah jelas kenyataannya bahwa mereka yang mendapat julukan sebagai mahasiswa sangat bertolak belakang dari arti mahasiswa itu sendiri. Tri Dharma Perguruan Tinggi yang seharusnya mereka junjung tinggi kedudukannya sudah tidak mereka hirauakan lagi. Mungkin, hanya dengan mendapat gelar sarjana dengan priorirtas nilai A itu sudah cukup, tanpa memikirkan apa yang harus mereka lakukan sebagai mahasiswa.

Melihat fenomena seperti diatas, sudah seharusnya kita selaku mahasiswa bersama – sama mencetak jati diri mahasiswa yang sebenarnya dengan menyadarkan masing – masing individu akan tugas dan fungsi kita sebagai mahasiswa. Jangan sampai opini negatif masyarakat mengenai  keberadaan mahasiswa semakin memburuk dan merusak citra diri mahasiswa negeri ini.
written by : Ina Maharani Hasibuan
                         ( Suara Mahasiswa Pergerakan )

Sabtu, 01 September 2012

Menjadi Audidaktor Sejati

Kemampuan individu dalam menguasai suatu pelajaran atau materi tertentu tergantung dari cara belajarnya. Banyak orang yang prestasi belajarnya menurun karena cara belajarnya tidak sesuai dengan keinginannya. Seseorang akan mudah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan cara belajarnya sendiri.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya dalam dunia belajar ada dua jenis cara belajar, yaitu belajar dengan bimbingan dan belajar tanpa bimbingan (dengan kemampuan sendiri). Orang yang biasa mempelajari sesuatu dengan kemampuannya sendiri disebut dengan orang autodidak (autodidaktor).

Autodidak dapat diartikan sebagai belajar secara sendiri untuk akhirnya mampu menguasai keahlian tertentu. Meski terkesan individualistis dan menjauhi dari nilai sosial, namun harus diakui metode belajar secara autodidak akan memberikan hasil yang sangat memuaskan walaupun tak semua orang akan mudah untuk menempuhnya.

Dahulu orang autodidak itu dipandang sebelah mata, karena mereka dianggap orang-orang yang tidak mengerti dasar keilmuwan. Mereka juga dicap sebagai individu yang seenaknya mengeskplorasi ilmu pengetahuan atau seni. Akan tetapi, belakangan ini eksistensi orang otodidak justru disegani. Mereka dianggap sebagai individu-individu yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata yang tak kalah hebatnya dengan individu-individu yang belajar dengan bimbingan. Begitu pula dengan prestasi belajar yang semakin lama semakin cemerlang. Sudah barang tentu banyak orang yang ingin menerapkan cara belajar ini.

Belajar secara autodidak sangat penting peranannya bagi tiap individu dalam usaha mencapai prestasi belajar yang tinggi. Seseorang yang memiliki kebiasaan belajar autodidak, cenderung menunjukkan semangat dan kegairahan dalam kegiatan belajarnya. Mereka biasanya kelihatan lebih menaruh perhatian bersungguh-sungguh dalam belajar dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.

Individu yang belajar secara autodidak akan lebih tekun, bersemangat, lebih tahan dan memiliki ambisi yang lebih tinggi dalam mencapai prestasi belajar yang lebih baik, dibandingkan dengan individu yang hanya belajar dengan pembimbing. Mereka yang bergantung dengan pembimbing akan kelihatan kurang atau tidak bergairah dalam belajar maupun pada saat mengikuti pembelajaran. Mereka tidak menaruh perhatian khusus terhadap pelajaran yang dipelajari dan tidak berpartisipasi aktif dalam belajar (pasif). Kondisi individu yang hanya mengandalkan seorang pembimbing dalam belajar sudah tentu tidak mampu menghasilkan prestasi yang memuaskan.

Albert Einsten
Seperti halnya Albert Enstein, pada masa kecilnya ia suka melamun. Menurut guru-gurunya di Jerman dia akan gagal di bidang yang ditekuninya; beberapa pertanyaannya merusak disiplin kelas, dan dia dianjurkan untuk tidak bersekolah. Padahal, apa yang dilakukannya itu bertujuan untuk mencari jawaban atas permasalahan yang ia pelajari sendiri. Namun demikian, ia tetap belajar sehingga menjadi orang yang berprestasi di sepanjang sejarah.

Melihat catatan seperti itu, belajar secara autodidak menjadi sangat efektif karena berawal dari kesadaran kita untuk ingin bisa menguasai keahlian tertentu. Hingga kegiatan belajar bukan lagi suatu kewajiban tetapi sudah menjadi kebutuhan. Akan ada perasaan bebas dan kita belajar tanpa keterpaksaan karena dalam belajar secara otodidak kita sendiri yang menentukan hal apa saja yang mau kita pelajari dan kita kuasai.

Kegiatan belajar secara autodidak dapat mengembangkan keterampilan yang kita miliki. Karena dalam belajar secara autodidak kita dituntut untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri. Kita bisa melatih diri dengan cara mampu mengenali kekurangan yang dimiliki dan mencoba mencari cara untuk memperbaiki kekurangan tersebut.
Kita akan menjadi manusia yang bebas karena bisa dengan fleksibel mengatur waktu untuk belajar, kita juga bisa menentukan sendiri kapan kita meluangkan waktu untuk belajar. Proses waktu yang lama untuk belajar secara autodidak juga dapat dijadikan sarana untuk memperluas pengetahuan, mengasah potensi yang dimiliki; pikiran, imajinasi, perasaan, kesadaran dan tubuh, dan memperkuat mentalitas diri.

Melalui belajar secara autodidak kita mampu memiliki keahlian yang sangat baik karena biasanya kita akan terus berlatih untuk semakin meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Itu semua terjadi karena dalam belajar secara autodidak hal yang kita pelajari adalah sesuatu yang memang kita sukai, sehingga tidak ada rasa bosan dan jenuh untuk selalu mempelajarinya. Kegiatan belajar secara autodidak mengasah kedewasaan pada diri kita untuk mampu menentukan mana yang harus kita lakukan dan mana yang baik untuk kita.

Dengan belajar secara autodidak kita dapat mempelajari hal yang memang menjadi minat dan bakat yang kita miliki. Kita akan mampu menghasilkan pribadi yang percaya diri dengan kemampuan yang istimewa, sehingga nantinya kita akan mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan sesuai dengan dengan minat dan keahlian yang dimiliki. Dengan demikian, kegiatan belajar maupun bekerja dapat menjadi hal yang menyenangkan.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa dalam belajar autodidak kemungkinan juga akan berhadapan dengan banyak kesulitan, rintangan, ejekan, hambatan, dan hal-hal yang mendorong seorang autodidak tidak mau belajar lagi. Semua itu harus diatasi satu persatu dengan penuh kesabaran, ketekunan, keuletan, kegigihan, dan semangat pantang menyerah, sehingga sedikit demi sedikit dapat diatasi. Lihatlah air yang menembus batu, itu tidak dilakukan dengan mudah, meski dari luar kelihatan mudah, membutuhkan akumulasi energi bertahun-tahun untuk menembus batu.

Belajar secara autodidak berawal dari kemauan diri sendiri. Berangkat dari kesadaran bahwa belajar adalah suatu kebutuhan. Kemampuan mungkin bisa dilatih tapi kemauan harus ada dari hati kita. Keterbatasan bukan menjadi hambatan, keterbatasan justru memacu kita untuk menjadi kreatif.

Tanpa disadari, dalam kehidupan sehari-hari kita banyak melakukan pembelajaran secara autodidak. Misalnya, ketika harus pergi ke sebuah tempat yang baru kita datangi maka kita akan coba untuk mengingat jalan yang kita lalui agar tidak tersesat ketika pulang nanti. Begitu juga dalam kegiatan adaptasi, ketika kita mencoba untuk menyesuaikan diri dengan tempat dan suasana baru, maka tanpa bimbingan siapapun kita akan mencoba untuk memahami tentang kondisi baru tersebut hingga kita bisa cocok dengan keadaan di sekitar kita itu. Dengan ketidaksadaran ini, perlahan kita akan terbiasa untuk mempelajari hal-hal yang baru secara autodidak.

Rutinitas yang dijalani dalam belajar autodidak memang membosankan. Maka dari itu, dengan melatih diri untuk belajar autodidak kita akan semakin mandiri dalam belajar. Dan jika kita mengalami kendala ketika belajar autodidak, kita  bisa mengatasinya dengan cara-cara yang tak terlalu sulit, seperti ; merancang posisi dan cara belajar yang menyenangkan, menikmati alam ketika merasa jenuh belajar, Mengingat tokoh idola atau ilmuan yang sukses, dan sebagainya. Dengan demikian, kita akan sukses dalam menguasai suatu materi / pelajaran dengan sendirinya. Kesuksesan dalam menguasai materi  pelajaran akan merujuk pada keberhasilan untuk mencapai prestasi yang diinginkan.
 
Written by : Ina Maharani Hasibuan

Jumat, 31 Agustus 2012

Keterlambatan Merupakan Sebuah Resiko

Kita tahu bahwa ada banyak keterlambatan di segala bidang. Keterlambatan ada dimana-mana, sehingga kita menganggapnya sebagai sesuatu yang lazim, padahal hal ini merupakan masalah yang serius karena banyak kesempatan dan peluang yang hilang karena keterlambatan.
Baik bagi diri sendiri, bagi orang lain, maupun bagi berbagai bidang, keterlambatan selalu mengundang resiko yang lebih besar. Diantaranya adalah kerugian yang tak terduga ; atau kesempatan yang hilang, mencegah terjadinya kesuksesan, mencegah pertumbuhan, menghambat kemajuan dan sebagainya.
Misalkan saja dalam bidang pendidikan; apabila terjadi keterlambatan dalam proses belajar-mengajar, tentu akan mengakibatkan para siswa ketinggalan pelajaran. Para dokter apabila terlambat dalam menangani pasien, maka akan berakibat fatal. Mungkin saja, si pasien tidak akan tertolong. Begitu pula dimasa sekarang dengan teknologi yang serba canggih ini. Apabila suatu daerah mengalami keterlambatan mengenai informasi tentang teknologi ini, maka mereka akan sulit beradaptasi ketika mereka berada diluar daerah tersebut. Akibatnya, mereka hanya bisa menjadi penonton bagi kaum-kaum canggih yang menggunakan teknologi.
Aku terlambat....
Sungguh sangat disayangkan jika keterlambatan masih terus saja terjadi. Karena memang jika suatu hal mengalami keterlambatan, maka akan timbul keterlambatan-keterlambatan yang lainnya. Meskipun itu hanyalah keterlambatan yang sedikit, namun dari hal sedikit itulah akan terbentuk kebiasaan-kebiasaan buruk yang dapat merugikan diri sendiri maupun pihak lain. Herannya, meski demikian masalah keterlambatan ini masih saja diacuhkan bagi kebanyakan orang. Mereka menganggap jika keterlambatan adalah hal yang biasa. Jelas mereka salah…
by : Ina Maharani Hasibuan